My School My Adventure

My School My Adventure

Karya: Nurmah, S.Pd (Guru B. Jerman SMAN 1 Megamendung)

Dering alarm dari ponselku membangunkan aku yang sedang tertidur lelap. Ya tepat pukul 03.30 pagi seperti biasa  bunyi alarm itu mengusikku untuk  segera bangun dan bersiap menghadapi hari. Ku ayunkan langkahku menuju tujuanku pertamaku yaitu  dapur. Kuhangatkan menu makanan hari ini untuk bekal sekolah anak gadisku yang sekarang sudah menginjak kelas XII SMA di sebuah sekolah negeri di timur Jakarta. Mengapa di Jakarta??? Ya aku memang tinggal di Jakarta. Jarak sekitar 50 km menuju sekolah tempatku mengabdi yaitu SMAN 1 Megamendung kutempuh setiap hari. Awalnya memang terasa sangat berat, tetapi seiring berjalannnya waktu aku mulai terbiasa dan menikmati perjalananku.

Selesai menghangatkan dan menyiapkan bekal untuk anakku kulanjutkan dengan mandi dan sholat subuh. Kubangunkan suamiku yang masih tertidur. “Bangun mas, sholat subuh”. Perlahan ia pun membuka mata dan melempar senyum untukku. Senyum itu tidak berubah dari semenjak aku mengenalnya sampai sekarang. Sambil menunggu suamiku yang sedang sholat subuh kubuatkan secangkir kopi untuknya. Diseruputnya kopi hitam buatanku. Terlihat sekali ia begitu menikmati kopi itu. Kemudian kumulai perjalananku ke sekolah tepat pukul 05.00.

Dari rumah aku diantar suamiku menggunakan kendaraaan roda dua. Diturunkannya aku di tempat pemberhentian bus di daerah Pasar Rebo. Kutunggu bus AKAP langgananku jurusan Jakarta – Tasikmalaya. Setelah menunggu hampir 20 menit akhirnya bus datang juga. Di dalam bus sudah ada teman-teman seperjuanganku yang selalu naik bus AKAP ini pada waktu dan bus yang sama. Mereka ada yang bekerja di daerah Ciawi, Cisarua, bahkan ada juga yang di Sukabumi. Selama hampir 12 tahun aku mengenal mereka.

Sepanjang perjalanan Jakarta – Ciawi biasanya aku lebih memilih untuk memejamkan mata sambil mendengarkan musik dari telpon selulerku, tapi hari ini aku menikmati perjalanan sambil melihat pemandangan sepanjang perjalanan. Aku merasa hari itu bus melaju begitu cepat. Konsentrasiku buyar saat bus berhenti mendadak. Aku terbangun, ku lihat pak sopir membelokkan kemudi sedikit ke arah kiri. Ternyata ada minibus hitam terguling. Tampak beberapa orang tergeletak berlumuran darah. Jantungku berdenyut sangat kencang. Jeritan para penumpang dan suara decitan rem terngiang keras di telingaku. Beberapa saat bus kembali melaju melanjutkan perjalanan. Semua orang saling bercerita dan berpendapat tentang peristiwa yang baru saja terjadi. Aku memilih mengalihkan pandanganku ke arah yang lain. Setelah 40 menit perjalanan akhirnya bus tiba di Ciawi. Aku turun dari dalam bus dan kulanjutkan perjalananku dengan menaiki angkot jurusan Cisarua.

Sampai di persimpangan Gadog aku melanjutkan kembali perjalananku dengan menaiki angkot jurusan Pasir Muncang. Di dalam Angkot seperti biasanya aku bertemu murid-muridku yang akan menuju sekolah juga. Mereka mengucapkan salam dan mencium tanganku. Terkadang kami juga bersenda gurau. Mereka yang aku ajar memanggilku dengan sebutan “Frau”. Frau adalah kata dalam bahasa Jerman yang digunakan untuk menyapa wanita yang lebih dewasa. Ya aku mengajar mata pelajaran Bahasa Jerman di SMAN 1 Megamendung. Mendengar mereka memanggilku dengan sebutan “Frau” saja sudah membuatku sangat bangga. Tiba di sekolah kami dibiasakan oleh pimpinan kami untuk menyambut siswa yang datang di gerbang sekolah.

Bel tanda mulai pelajaran sudah berbunyi, itu artinya sudah waktunya aku melaksanakan tugasku. Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, 12 tahun sudah aku mengabdi di sekolah ini dan 12 tahun sudah kulalui perjalananku Jakarta – Megamendung. Dari awal kuterima SK penempatan sampai sekarang doaku masih tetap sama, semoga Allah selalu memberikanku kesehatan dan kesabaran.

Meine Schule meine Abenteuer (My School My Adventure)

Share your love